Mumi manusia dan hewan memang punya daya tarik tersendiri, apalagi buat para kolektor. Karena langka, proses mendapatkannya seringkali lewat jalur yang enggak resmi, kadang sembunyi-sembunyi, bahkan ada juga yang ilegal. Tapi, menurut para ahli yang tulisannya dimuat di International Journal of Cultural Property, risiko jadi kolektor mumi itu bukan cuma soal hukum, lho.

Mumi ternyata juga bisa jadi sumber bahaya kesehatan yang serius! Ini karena ada zat beracun yang dipakai buat pengawetan, plus pertumbuhan mikroba kalau penyimpanannya kurang bener. Bahkan, spora atau jamur beracun inilah yang sering disebut-sebut sebagai penyebab "kutukan mumi" yang legendaris, seperti yang santer terdengar waktu penggalian makam Raja Tutankhamen.

Bahaya Ganda: Zat Beracun dan Mikroba Mematikan

Proses mumifikasi dari zaman dulu sampai sekarang itu pakai berbagai bahan dan zat beracun supaya mumi bisa awet. Contohnya nih, ada logam berat seperti arsenik, merkuri, dan timbal. Makanya, butuh penanganan yang ekstra hati-hati biar enggak kena efek buruknya ke kesehatan.

Enggak heran kalau para profesional yang kerja sama mumi biasanya pakai masker, sarung tangan, dan jas lab lengkap. Selain zat beracun, ada juga berbagai mikroorganisme (kayak bakteri, jamur, ragi) yang bisa "tidur" di dalam jaringan mumi selama ratusan tahun. Kalau mumi disimpan di kondisi yang enggak optimal, mikroba ini bisa bangun lagi, berkembang biak, dan jadi banyak banget karena ada pasokan bahan organik yang melimpah.

Studi Kasus: Bukti Nyata Bahaya Mumi

Ngeri, kan? Ini dia beberapa contoh kasus yang membuktikan bahaya mumi: