Firestorm Labs Raup $82 Juta: Pabrik Drone Kini Bisa Dibawa ke Medan Perang!

Bayangkan ada konflik besar di wilayah Pasifik. Pabrik drone Amerika Serikat yang terdekat jaraknya ribuan mil jauhnya. Kapal dan pesawat yang membawa suku cadang ke garis depan pastinya sangat rentan diserang. Nah, perusahaan rintisan pertahanan bernama Firestorm Labs punya ide gila tapi brilian: bagaimana kalau pabrik drone itu muat di dalam kontainer pengiriman?

Kabar terbarunya, Firestorm Labs baru saja mengumumkan bahwa mereka berhasil mengumpulkan dana investasi Seri B sebesar $82 juta (sekitar Rp 1,3 triliun). Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Washington Harbour Partners, dengan partisipasi dari sejumlah investor besar lainnya seperti NEA, Ondas, In-Q-Tel, Lockheed Martin, Booz Allen Ventures, Geodesic, Motley Fool Ventures, dan banyak lagi. Dengan tambahan ini, total pendanaan yang berhasil mereka kumpulkan mencapai $153 juta (sekitar Rp 2,4 triliun)!

Dari Pembuat Drone Jadi "Pabrik Berjalan"

Awalnya, Firestorm Labs bukan perusahaan 'pabrik' lho. Mereka memulai sebagai pembuat drone. Tapi, ketika para pelanggan mulai meminta agar produksi bisa lebih dekat ke garis depan, para pendiri melihat peluang emas untuk melakukan "pivot" atau perubahan arah bisnis.

CEO Firestorm Labs, Dan Magy, adalah seorang wirausahawan teknologi pertahanan yang berpengalaman. Rekan-rekannya pun punya latar belakang yang keren banget: Chad McCoy adalah veteran operasi khusus yang sudah malang melintang, sementara CTO Ian Muceus punya belasan paten di bidang percetakan 3D. Kombinasi yang pas untuk inovasi semacam ini!

Mengenal xCell: Pabrik Drone dalam Kontainer

Perusahaan rintisan yang berbasis di San Diego ini menciptakan sebuah platform manufaktur bernama xCell. Ini adalah sebuah pabrik mini yang dikemas dalam kontainer dan bisa mencetak sistem drone hanya dalam waktu kurang dari 24 jam! Drone-drone ini pun enggak cuma bisa dipakai buat satu tujuan. Tergantung misinya, mereka bisa dikonfigurasi untuk pengawasan atau perang elektronik, begitu kata Magy kepada TechCrunch.

Ketika ditanya apakah platform ini mampu menjalankan operasi mematikan, Magy mengonfirmasi bahwa mereka memang bisa. Semua platform dikirimkan ke komando operasional Departemen Pertahanan yang seragam, yang kemudian mengerahkan mereka sesuai dengan doktrin militer.

Pentingnya "Logistik dalam Medan Perang"

Bukan cuma perusahaan rintisan seperti Firestorm yang memperhatikan hal ini. Pentagon sendiri menyebut 'logistik dalam medan perang' โ€” yaitu menjaga pasokan senjata dan logistik tetap bergerak di bawah serangan โ€” sebagai salah satu dari enam area teknologi paling krusial di negaranya.

Firestorm Labs menghasilkan pendapatan dari penjualan perangkat keras dan kontrak pemerintah di semua cabang militer AS. Kontrak dengan Angkatan Udara AS punya nilai hingga $100 juta, meskipun baru $27 juta yang sudah digunakan sejauh ini.

Teknologi Ini Sudah Dipakai di Lapangan

Teknologi ini sudah terbukti di dunia nyata. Saat ini, ada dua unit xCell yang sudah ditempatkan di dalam negeri AS: satu di Laboratorium Penelitian Angkatan Udara di Rome, New York, dan satu lagi di Komando Operasi Khusus Angkatan Udara di Florida, jelas Magy. Firestorm menolak menyebutkan unit mana di Indo-Pasifik yang menggunakan xCell, namun perusahaan mengatakan platform tersebut sudah beroperasi di wilayah tersebut.

Di dalam setiap kontainer xCell terdapat printer 3D HP kelas industri yang mencetak bodi dan cangkang setiap drone. Lewat kesepakatan ini, Firestorm memegang hak eksklusif global selama lima tahun dengan HP untuk menggunakan teknologi percetakan 3D industri mereka di unit penempatan bergerak, kata Magy. Namun, senjata itu sendiri tidak dicetak 3D dan ditambahkan secara terpisah.

Hebatnya lagi, teknologi ini juga bisa dipakai untuk mencetak suku cadang kendaraan militer. Angkatan Darat AS pernah menggunakan xCell untuk mencetak suku cadang pengganti untuk Kendaraan Tempur Bradley di lokasi. Bagian-bagian yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan untuk didapatkan, kini bisa dicetak di tempat!

Solusi Cerdas untuk Tantangan Modern

Masalahnya lebih dalam dari sekadar jarak. Fasilitas manufaktur yang statis itu sendiri bisa menjadi target empuk, sebuah kerentanan yang dipelajari Ukraina dengan cara yang sulit. Dan konflik modern bergerak sangat cepat. Pelajaran dari Ukraina menunjukkan bahwa desain drone bisa berubah dalam hitungan hari, bukan bulan, kata Magy.

Bagi Firestorm, wilayah Indo-Pasifik adalah fokus utama. Di sana, tantangan logistik konflik modern adalah yang paling sulit dipecahkan. Perusahaan rintisan ini menargetkan xCell dapat mencapai penggunaan operasional penuh di sana, "idealnya dalam dua tahun ke depan," tutup Magy kepada TechCrunch.