Sejarah Vaksin dan Anti-Vaksin
Stanley Plotkin, seorang ilmuwan vaksin berusia 93 tahun, telah mengembangkan banyak vaksin sepanjang karirnya. Belakangan ini, ia mengungkapkan bahwa ia mulai menyesali telah hidup terlalu lama karena "kita sedang menuju ke bawah". Bagaimana kita bisa sampai pada titik ini?
Mungkin kita telah selalu berada di sini. Ternyata, argumen anti-vaksin yang saat ini membanjiri internet telah ada sejak vaksin pertama kali ditemukan. Dalam buku barunya, A Pox on Fools, Thomas Levenson membagi argumen-argumen ini menjadi tiga kategori, seperti yang ditunjukkan dalam subjudul buku tersebut: "orang-orang yang percaya, penipu, dan sinis yang membuat kita menolak vaksin". Tuduhan yang dilayangkan oleh orang-orang ini terhadap vaksin dapat digunakan untuk mengategorikan argumen mereka sendiri: salah, buruk, dan tak dapat ditoleransi.
Salah
Menurut Levenson, pada awal abad ke-18, beberapa orang Barat yang berpikiran maju belajar tentang inokulasi melawan penyakit smallpox dari wanita Ottoman dan seorang budak Afrika. Pada saat itu, penyakit menular merupakan penyebab kematian utama, seperti yang telah terjadi selama berabad-abad. Pada abad ke-19, sekitar 40% bayi meninggal karena infeksi sebelum mereka berusia 5 tahun.