Warga Protes Pusat Data yang Boros Air dan Energi Akibat AI
Dari Texas sampai Arizona, banyak spanduk protes bertuliskan seruan seperti “Lindungi air kita,” “Air untuk manusia, bukan AI,” dan “Jangan main-main dengan air kami.” Kenapa? Karena warga di sana makin kesal dan resah dengan pembangunan pusat data (data center) yang super cepat di Amerika Serikat.
Pusat data ini butuh banyak air dan energi, juga dituding menyebabkan polusi. Apalagi, pembangunan ini didorong oleh perusahaan teknologi raksasa yang lagi gencar-gencarnya memperluas kapasitas untuk Kecerdasan Buatan (AI).
Kenapa Pusat Data Butuh Air?
Ternyata, banyak pusat data mengandalkan air untuk mendinginkan perangkat mereka. Prosesnya mirip seperti kita berkeringat: air menyerap panas dari udara atau permukaan, lalu menguap dan menciptakan sensasi dingin.
Alasannya, prosesor di dalam pusat data bisa jadi panas banget, lho! Suhu di dalamnya bisa mencapai 176° Fahrenheit (sekitar 80° Celsius). Sama seperti laptop kamu yang jadi panas kalau dipakai kerja berat, server-server di pusat data juga demikian.
Perdebatan Konsumsi Air: Fakta atau Hoax?
Memang sih, tidak ada yang meragukan kalau pusat data itu boros energi. Tapi, soal konsumsi air, ceritanya agak lebih rumit.
Banyak informasi simpang siur beredar online. Ada yang bilang satu pertanyaan ke chatbot AI saja bisa menghabiskan 500 ml air. Tapi, di sisi lain, ada juga yang bilang masalah air AI ini cuma karangan belaka alias tidak ada sama sekali.
Sayangnya, data konsumsi air dari perusahaan teknologi besar sendiri seringkali tidak lengkap dan tidak konsisten. Jadi, kita jadi susah banget mau tahu mana yang benar.