Bagaimana Burung Migrasi dan Merpati Menggunakan Medan Magnet Bumi untuk Navigasi

Ilmuwan telah lama mengetahui bahwa burung migrasi dan merpati homing navigasi sebagian dengan mendeteksi medan magnet Bumi, terutama pada malam hari atau dalam kondisi cuaca mendung ketika landmark visual atau sinar matahari langka. Namun, lokasi pasti di mana pendeteksian magneto ini terjadi di tubuh dan mekanisme yang memungkinkannya masih menjadi topik perdebatan yang intens.

Penelitian Baru tentang Merpati Homing

Sebuah makalah baru yang diterbitkan di jurnal Science menunjukkan bahwa merpati homing memiliki sel imun kaya besi di hati mereka yang membantu mereka mendeteksi medan magnet dan mengirimkan informasi tersebut ke otak.

Ada tiga hipotesis utama tentang bagaimana burung dapat mendeteksi medan geomagnetik Bumi. Yang pertama adalah mekanisme seperti kompas, di mana Bumi memberikan tarikan pada partikel magnetik di paruh atas burung yang mengirimkan informasi arah melalui saraf besar di tengkorak. Yang kedua adalah bahwa hal itu terjadi secara biologis melalui saluran ion sel yang sensitif terhadap tegangan, memungkinkan burung untuk mendeteksi perubahan di medan magnet. Dan yang ketiga menyarankan bahwa efek fisik pada pigmen retina memungkinkan burung untuk mendeteksi foton dan mengirimkan sinyal ke otak, meskipun mekanisme ini hanya layak dalam cahaya.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa hati dan limpa memiliki sifat magnetik karena mereka menguraikan sel darah merah dan menyimpan banyak besi di tubuh, kata co-penulis Clivia Lisowski dari Universitas Bonn dan Rumah Sakit Universitas Bonn. Ini merujuk pada makalah 2015 yang menyarankan bahwa makrofag pulp merah di limpa tikus dan manusia secara instrinsik superparamagnetik dan oleh karena itu lebih sensitif terhadap medan magnet.