Musim Kemarau Meluas, Namun Cuaca Ekstrem Masih Mengancam Beberapa Wilayah

Ilustrasi. Musim kemarau terus meluas secara bertahap, tetapi beberapa wilayah ini masih berpotensi diguyur hujan lebat dan angin kencang hingga akhir April.

BMKG: Variabilitas Iklim Berada dalam Kondisi Netral

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan variabilitas iklim seperti El Niรฑo-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) berada dalam kondisi netral, sehingga tidak memberikan pengaruh dominan hingga pekan ini.

Selain itu, dominasi aliran angin timur di sebagian besar wilayah menjadi sinyal bahwa sejumlah daerah mulai beralih secara bertahap dari periode musim hujan menuju musim kemarau.

Meskipun begitu, potensi hujan sepekan ke depan masih dapat terjadi akibat pengaruh dinamika atmosfer lainnya, tulis BMKG dalam keterangannya.

Fenomena Atmosfer yang Berpotensi Mempengaruhi Cuaca

BMKG menyebut fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) berada di fase 1, tetapi filter spasialnya diprediksi melewati wilayah Aceh, Sumatera Utara dan Papua Selatan.

Kemudian, Gelombang Kelvin diprakirakan aktif di sebagian wilayah Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi bagian tengah dan selatan, Maluku dan Pulau Papua.

Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial diprediksi aktif di wilayah Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Pulau Sulawesi bagian selatan, Maluku, dan Papua bagian tengah dan selatan.

Berbagai dinamika atmosfer tersebut dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut, tulis BMKG.

Wilayah yang Berpotensi Mengalami Cuaca Ekstrem

Lebih lanjut, sirkulasi siklonik berpotensi terbentuk di Perairan Barat Aceh.

Pada skala lokal, labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal terdapat di Aceh, Sumatara Utara, Riau, Kep. Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, NTT, Papua Barat dan Papua.

Berikut daftar wilayah berpotensi cuaca ekstrem hingga 30 April: