Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo Terus Menyebar
Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo terus meluas dan melampaui upaya respons internasional untuk menangkapnya. Wabah ini pertama kali diumumkan pada tanggal 15 Mei dan sudah menjadi wabah Ebola ketiga terbesar yang tercatat. Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 24 Mei menunjukkan bahwa ada 1.018 kasus (906 kasus diduga, 112 kasus dikonfirmasi) dengan 234 kematian (223 kematian diduga, 11 kematian dikonfirmasi). Namun, angka-angka ini dikenal sebagai perkiraan yang rendah dari penyebaran sebenarnya dan juga kemungkinan sudah ketinggalan zaman.
Upaya Internasional untuk Mengendalikan Wabah
WHO dan lembaga kesehatan nasional lainnya menyerukan dukungan dan kolaborasi internasional untuk mengendalikan wabah ini. Namun, tampaknya Amerika Serikat (AS) malah memilih untuk mengisolasi diri, bahkan dari warga negara dan penduduk permanen yang sah.
AS Membatasi Perjalanan dari Negara-negara yang Terkena Wabah
Pada hari Jumat, pemerintahan Trump mengumumkan bahwa mereka akan meningkatkan larangan perjalanan yang kontroversial, sekarang melarang bahkan penduduk permanen yang sah (pemegang kartu hijau) untuk memasuki negara jika mereka telah bepergian ke Republik Demokratik Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan dalam 21 hari sebelumnya. Langkah ini adalah tambahan untuk melarang pemegang paspor non-AS dengan riwayat perjalanan tersebut. Perlu diingat bahwa Uganda hanya melaporkan tujuh kasus dan satu kematian dalam wabah ini; tidak ada kasus yang dilaporkan di Sudan Selatan.